Puisikoe….’’Guru SeJati’’
Ada gugusan rindu membara
Adakah seteguk air yang telah engkau minumkan
Atau sebutir biji yang engkau tanam
Di dalam lubuk hati ini
Yang telah lama terlupakan dan gersang
Adakah setetes air hujan
Menjadikannya kembali hidup dan bersemi
Burung pipit tersenyum
Mengajak lari
Menyambut pagi
Aku bangun
Mencoba melangkah mengikuti
Tapi kaki enggan berdiri
Mentari bersinar cerah
Menembus sekat pintu
Membuka daun cendela
Tapi mata yang terlanjur rabun
Menjadi semakin buram
Kau datang guru
Dalam mimpiku di siang hari
Sinarmu kuat
Menarik tanganku
Kau datang lagi guru
Dalam mimpiku di siang hari
Bersama pasukanmu
Meratakan jalan
Menyingkirkan rintangan
Aku yang telanjang
Tuli, bisu, buta
Sendiri
Tertatih – tatih
Melangkah searah
Mengikuti isyaratmu
Adakah sinarmu,
Sinari aku ?
Adakah kuatmu,
Kuati aku ?
Aku bangun lagi
Melangkah semakin mendaki
Kau datang lagi guru
Saat aku rindui
Kini di depanku ada keretamu
Siap membawaku
Menuju maumu
Beni Bunyana
HAMPIR MATI GAYA
Setiap
langkah ku jalani
Tak
selamanya ku dapati
Setiap
alur ku cermati
Tak
selamanya surut ku nafkahi
Harus apa lagi asa di teladani
Harus apa lagi sesuatu bisa
dipahami
Walau secercah tergapai ditelusuri
Walau sebidang terrenggut dikuasai
Eksistaensi
menjadi patokan walau tak terhindar
Keraguan,
kemauan, dan kepastian selalu bergetar
Khayalan
serta acuan terarah walau sebentar
Keindahan,
kesetaraan, dan kehampaan selalu berakar
Wahai penguasa alam semesta
Tunjukan arah ke jalan tak
berkasta
Merangkul hasrat menghindar dusta
Biar mahligai cinta tak nestapa
Batam, 2 Juli 2013
Beni Bunyana
KETIKA KATA-KATA KEHILANGAN MAKNA
masihkah kau dengar lirih nyanyian burung di pagi hari?
saat kita kehilangan makna dalam menangkap pesan
kicau yang kita dengar, suara-suara menggelepar dalam tarikan napas
tak jelas dan tanpa memiliki isyarat
masihkah kau resapi tetesan embun di pagi buta?
saat subuh membangunkan kantuk
cerita semalam, pidato-pidato melenakan
hilang tanpa roh dan kenyataan
ketika kata-kata kehilangan makna
alangkah ngerinya suasana yang tercipta
pada saat kampanye, pada saat pilkada
semua kata berbumbu bunga
namun kini, entah dimana aromanya berada
masihkah engkau akan setia membangunkanku di setiap subuh?
kita banting segala mimpi, kita hantam semua janji yang pernah kita dengar
lalu kita lafazkan ayat-ayat rahmah
kita alunkan kicau damai ke seluruh dunia
dan kita sujud dan zikir di keheningan semesta
Beni Bunyana
NUANSA KALBUKU…KALBUMU…
Sudah
tiga tahun jalan dilalui
Kelakar
dan canda terselimuti
Kecantikan
warna senyuman bak pelangi
Damainya
cinta hati berbagi
Kalbuku….
Tak ada pengecualian untukmu sayang
Walau setiap melangkah sangatlah rindu
Menyentuh kata indah selalu terbayang
Wangi aroma sunggingmu begitu syahdu
Kalbumu…
Asaku,
sirat namamu selalu terbuai
Namun
bila itu semua bisa terwujud
Sangatlah
indah
Batam, 2 Juli 2013
Beni Bunyana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar