Jumat, 12 Juli 2013

Puisikoe….’’Guru SeJati’’

Puisikoe….’’Guru SeJati’’

Ada gugusan rindu membara

Adakah seteguk air yang telah engkau minumkan
Atau sebutir biji yang engkau tanam
Di dalam lubuk hati ini
Yang telah lama terlupakan dan gersang
Adakah setetes air hujan
Menjadikannya kembali hidup dan bersemi

Burung pipit tersenyum
Mengajak lari
Menyambut pagi
Aku bangun
Mencoba melangkah mengikuti
Tapi kaki enggan berdiri


Mentari bersinar cerah
Menembus sekat pintu
Membuka daun cendela
Tapi mata yang terlanjur rabun
Menjadi semakin buram

Kau datang guru
Dalam mimpiku di siang hari
Sinarmu kuat
Menarik tanganku
Kau datang lagi guru
Dalam mimpiku di siang hari
Bersama pasukanmu
Meratakan jalan
Menyingkirkan rintangan

Aku yang telanjang
Tuli, bisu, buta
Sendiri
Tertatih – tatih
Melangkah searah
Mengikuti isyaratmu

Adakah sinarmu,
Sinari aku ?
Adakah kuatmu,
Kuati aku ?
Aku bangun lagi
Melangkah semakin mendaki

Kau datang lagi guru
Saat aku rindui
Kini di depanku ada keretamu
Siap membawaku
Menuju maumu






Beni Bunyana










HAMPIR MATI GAYA


Setiap langkah ku jalani
Tak selamanya ku dapati
Setiap alur ku cermati
Tak selamanya surut ku nafkahi
              Harus apa lagi asa di teladani
              Harus apa lagi sesuatu bisa dipahami
              Walau secercah tergapai ditelusuri
              Walau sebidang terrenggut dikuasai
Eksistaensi menjadi patokan walau tak terhindar
Keraguan, kemauan, dan kepastian selalu bergetar
Khayalan serta acuan terarah walau sebentar
Keindahan, kesetaraan, dan kehampaan selalu berakar
              Wahai penguasa alam semesta
              Tunjukan arah ke jalan tak berkasta
              Merangkul hasrat menghindar dusta
              Biar mahligai cinta tak nestapa
Batam, 2 Juli 2013
Beni Bunyana





KETIKA KATA-KATA KEHILANGAN MAKNA

masihkah kau dengar lirih nyanyian burung di pagi hari?
saat kita kehilangan makna dalam menangkap pesan
kicau yang kita dengar, suara-suara menggelepar dalam tarikan napas
tak jelas dan tanpa memiliki isyarat
masihkah kau resapi tetesan embun di pagi buta?
saat subuh membangunkan kantuk
cerita semalam, pidato-pidato melenakan
hilang tanpa roh dan kenyataan
ketika kata-kata kehilangan makna
alangkah ngerinya suasana yang tercipta
pada saat kampanye, pada saat pilkada
semua kata berbumbu bunga
namun kini, entah dimana aromanya berada
masihkah engkau akan setia membangunkanku di setiap subuh?
kita banting segala mimpi, kita hantam semua janji yang pernah kita dengar
lalu kita lafazkan ayat-ayat rahmah
kita alunkan kicau damai ke seluruh dunia
dan kita sujud dan zikir di keheningan semesta


Beni Bunyana

NUANSA KALBUKU…KALBUMU…

Sudah tiga tahun jalan dilalui
Kelakar dan canda terselimuti
Kecantikan warna senyuman bak pelangi
Damainya cinta hati berbagi
          Kalbuku….
          Tak ada pengecualian untukmu sayang
          Walau setiap melangkah sangatlah rindu
          Menyentuh  kata indah selalu terbayang
          Wangi aroma sunggingmu begitu syahdu
Kalbumu…
Asaku, sirat namamu selalu terbuai
Namun bila itu semua bisa terwujud
Sangatlah indah
         
Batam, 2 Juli 2013
Beni Bunyana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar